Dulu Helen Hanya Menyukai Lantunan Alquran, Kini Tak Pernah Tinggalkan Membaca Alquran
Hidayah adalah anugerah paling lembut yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kadang datang melalui peristiwa besar, tapi tak jarang juga hadir dalam hal-hal kecil—seperti suara mengaji, atau kerinduan yang tak bisa dijelaskan pada suasana tarawih. Inilah yang dialami oleh Helen, seorang perempuan Tionghoa dari Pontianak, yang kisahnya memberikan pelajaran berharga tentang ketulusan dalam mencari kebenaran.
Sejak duduk di bangku SD, Helen sudah bersentuhan dengan ajaran Islam. Karena sekolah di negeri, ia mengikuti pelajaran agama Islam dan bahkan diajak teman-teman untuk salat di masjid. Meski hanya ikut-ikutan, pengalaman itu tertanam kuat dalam hatinya.
Setiap kali Ramadan tiba, ada kerinduan aneh dalam dirinya saat melihat orang pulang tarawih. Ia ingin sekali menjadi bagian dari mereka, meski tak tahu bagaimana harus memulai. Bahkan saat pulang dari rumah neneknya di daerah Harum Manis, suara orang mengaji dari masjid selalu mampu menghentikan langkahnya. Ia diam, mendengarkan, dan merasakan ketenangan yang tak pernah bisa dijelaskan.
“Suara ngaji itu seperti menenangkan hati. Rasanya nyaman… damai… entah kenapa,” kenang Helen.
Takdir mempertemukan Helen dengan seorang pria Muslim yang sederhana namun baik hati. Dari perkenalan yang awalnya hanya sebagai pembeli di toko keluarga, tumbuhlah rasa cinta. Pria itu kemudian dengan lembut mengatakan bahwa jika mereka menikah, Helen harus masuk Islam.
Helen tidak menolak. Justru ia merasa seolah langkah hidupnya telah disiapkan jauh sebelum hari itu. Ia pun mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Mujahidin, disaksikan oleh keluarga dan orang-orang terdekat.
“Rasanya campur aduk. Terharu, bahagia, tidak percaya. Tapi dari kecil memang ada keinginan masuk Islam,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah menjadi mualaf, perjalanan Helen tak serta merta mudah. Ia butuh waktu untuk belajar mengaji, memahami tata cara salat, dan mulai mengenakan hijab. Ada masa di mana ia berhenti mengaji karena melahirkan. Ada pula masa di mana hijab hanya ia kenakan saat pengajian atau saat Lebaran.
Namun Helen tak menyerah. Ia kembali belajar dari titik di mana ia pernah berhenti. Bersama Bu Yus, guru ngajinya, Helen melanjutkan membaca Al-Qur’an hingga tuntas. Ia mulai rutin ikut pengajian, mendengar ceramah, dan berteman dengan komunitas Muslimah yang mendukung perjalanannya.
Lama-lama, tanpa paksaan, hijab pun menjadi bagian dari dirinya.
“Dulu hanya pakai saat ada acara. Tapi sekarang, kalau tak pakai, rasanya seperti ada yang hilang,” katanya pelan.
Helen adalah potret perempuan yang menemukan Islam melalui jalur yang sunyi—melalui suara, rasa, dan keinginan yang tumbuh perlahan sejak kecil. Ia tidak didorong oleh debat atau tekanan, tapi oleh cinta yang dalam kepada kedamaian yang ditawarkan Islam.
Perjalanan Helen mengajarkan bahwa dakwah tak selalu harus dengan kata-kata lantang. Kadang, hanya dengan menjadi Muslim yang baik, santun, dan bersahaja, kita sudah cukup menjadi cahaya bagi orang lain.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Baqarah: 213)
Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk lebih menghargai hidayah, menjaga iman, dan terus menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi sekitar.
link video dari kisah diatas : https://www.youtube.com/watch?v=8TM7slIq5o0
