Pada 1 Mei 2025, bumi bagian Kanada mendadak gemetar. Bukan karena gempa. Tapi karena langit di atas Edmonton dipenuhi oleh gema adzan dari seorang muadzin berjenggot rapi dan suara berat khas penyiar radio dakwah. Namanya Admiral Jahimir, Presiden Indonesia Muslim Community of Edmonton (IMCE), yang saat itu sedang menjalankan tugas kenegaraan, mengumandangkan adzan pertama dari Masjid Indonesia pertama di Edmonton. Yes, the very first. Bukan replika. Bukan plagiat. Masjid sungguhan!
Seperti yang biasa terjadi dalam sinetron religi di bulan Ramadan, langit mendadak mendung haru, burung-burung terbang membentuk huruf “Laa ilaaha illallah”, dan seorang mantan gitaris metal menangis sambil mencium sajadah. Mengharukan? Banget. Absurd? Lebih lagi. Realistis? Tentu saja, ini Kanada, bro. Apa pun bisa jadi kenyataan. Bahkan toko alat musik bisa bertobat.
Sebelumnya, bangunan ini adalah toko alat musik. Tempat orang-orang membeli gitar untuk latihan menjadi Ed Sheeran lokal, atau sekadar mencari drum set demi mengekspresikan kebisingan batin. Tapi, seperti manusia yang hatinya tersentuh hidayah, toko ini mengalami inshaf interior. Alat musik pun tersingkir ke loteng, diganti oleh karpet sajadah, rak Al-Qur’an, dan dispenser air zam-zam (buatan Calgary).
Dari Februari 2025 dimulai proses wakaf dan penggalangan dana. Dan… voilà! Dalam tempo yang lebih cepat dari proposal pembangunan jalan tol di Indonesia, bangunan ini menjelma jadi masjid. Dana wakaf? Hanya CAD 575.000 alias Rp6,7 miliar. Sebuah nominal yang mungkin cukup untuk beli apartemen mewah… atau sewa lapak jualan tempe di Tokyo.
