Barcode, Sandal, dan Air Zamzam: Kisah Cinta di Tanah Haram

Haji 2025, Ketika Barcode Bertemu Baitullah

Di antara pasir yang membakar dan harapan yang berkobar, di bawah langit yang lebih panas dari gosip emak-emak komplek, jutaan manusia bergerak menuju satu titik yang sama: Ka’bah. Sebuah bangunan hitam sederhana yang sejak ribuan tahun lalu berhasil membuat manusia menangis, bertakbir, dan kehilangan sandal dalam waktu bersamaan.

Namun tahun 2025 ini, haji tak lagi sekadar ziarah spiritual. Ia telah menjelma menjadi opera besar level Oscar, di mana setiap jemaah bukan lagi hanya tamu Allah, tapi juga aktor utama dalam film dokumenter bertema, “Barcode, Sandal, dan Air Zamzam: Kisah Cinta di Tanah Haram.”

Begitu mendarat di Bandara Jeddah, para jemaah langsung disambut petugas berseragam dan sistem pengawasan yang lebih canggih. Wajah-wajah lelah dan pasrah itu di-scan, dicocokkan, dipantau, seolah-olah hendak masuk ke pusat data rahasia Illuminati. Bahkan ada jemaah yang berseloroh, “Ini haji atau ikut tes CPNS Arab Saudi?”

Semua dimulai dari visa. Tapi bukan visa biasa. Ini Visa Haji Resmi, sebuah lembaran elektronik yang lebih sakral dari ijazah S3 palsu para motivator. Tanpa visa ini, Anda tak akan bisa mendekati Mekkah sejauh lontaran batu jumrah. Petugas keamanan bahkan mampu mengenali jemaah ilegal dari aroma sandal mereka. Sekali tertangkap, jemaah gelap langsung dikembalikan ke hotel, atau lebih tepatnya, ke realitas pahit bahwa mereka hanya bisa menyaksikan Ka’bah lewat televisi hotel sambil makan biskuit kering.

Jangan lupakan Kartu Nusuk, kartu suci yang konon bisa membuka pintu-pintu surga Mekkah. Bentuknya mungil, tapi kekuatannya lebih dahsyat dari cincin Sauron. Tanpa kartu ini, Anda hanyalah pejalan kaki kesepian yang tak diakui semesta. Bahkan malaikat pun mungkin bertanya, “Mana kartu kamu?”

Belum cukup sampai di situ, tahun ini muncul sosok baru, Syarikah. Perusahaan lokal yang diberi kuasa hampir setara dewa-dewa mitologi Yunani. Mereka menentukan ke mana jemaah boleh bergerak, tidur, bahkan buang air. Banyak yang mengira Syarikah ini startup logistik. Tapi sebenarnya mereka adalah The Chosen One yang ditunjuk untuk mengatur ratusan ribu umat manusia yang sedang mencari Tuhan dalam suhu 50 derajat Celsius.

Bayangkan, dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah, para jemaah harus melalui proses administratif yang begitu rumit, seolah ingin naik haji dan mengurus KPR dalam satu paket. Setiap pergerakan dicatat, setiap langkah diawasi, setiap batuk direkam, semua demi keamanan, katanya. Tapi bagi sebagian jemaah lansia, ini adalah cobaan level “hidup kembali ke zaman batu… tapi pakai WiFi.”

Lalu cuaca. Kalau Rasulullah bersabda bahwa sabar adalah separuh dari iman, maka tahan panas di Mekkah adalah sisanya. Suhu di sana bukan lagi derajat, tapi perasaan, panasnya bukan main, menusuk hati hingga ke lubuk terdalam. Sampai ada jemaah yang bilang, “Kalau neraka segini, aku tobat sekarang juga.”

Dalam kondisi seperti ini, 28 jemaah Indonesia wafat. Sebagian karena penyakit, sebagian lagi karena tidak kuat menahan keinginan untuk thawaf jam 12 siang, saat aspal bisa digunakan sebagai penggorengan darurat. Di satu sisi, ini tragis. Di sisi lain, ini spiritual: wafat saat haji, konon langsung masuk surga. Tapi ya, tetap saja, lebih baik masuk surga dalam keadaan hidup.

Jemaah pun dilarang banyak beraktivitas di luar hotel saat siang hari. Tapi ada saja yang nekat. Alasannya macam-macam. Ada yang ingin foto selfie di depan Ka’bah, ada yang katanya dengar suara gaib menyuruh keluar, dan ada juga yang cuma pengin beli es krim. Ya, es krim. Di Tanah Haram. Di tengah suhu yang bisa melelehkan iman.

Sementara itu, di sudut-sudut kota suci, kita mendengar kisah menyayat hati, jemaah tersesat. Bukan satu dua, tapi belasan. Ada yang lupa jalan, ada yang lupa diri, dan ada yang lupa bahwa dia tidak boleh ikut rombongan negara lain hanya karena tasnya sama. Yang paling viral adalah seorang kakek yang tersesat selama dua hari dan ditemukan sedang tidur di toko parfum, dikelilingi oleh aroma Oud dan kenangan masa lalu.

Pemerintah mencoba menanggulangi ini dengan memasang petugas pendamping dan gelang GPS. Tapi tetap saja, jiwa-jiwa yang merdeka sulit dikendalikan, apalagi jika sudah niat ingin cari toilet atau ingin beli oleh-oleh ke Madinah padahal belum waktunya.

Namun di tengah segala absurditas ini, tetap ada haru. Momen saat jutaan manusia berkumpul, mengenakan pakaian ihram yang sama, tanpa gelar, tanpa status sosial. CEO berdiri di samping tukang becak, artis sinetron bersandar pada nenek penjual gorengan. Semua satu, semua sama, semua hanya hamba.

Haji memang bukan liburan rohani. Ia adalah perjalanan melintasi dimensi eksistensial manusia, antara tubuh yang lelah dan jiwa yang gelisah, antara niat yang suci dan sandal yang tertukar. Ia menuntut kesabaran, keteguhan, dan kadang, keterampilan membaca peta dan menyetel AC portable.

Di tenda-tenda Arafah, jemaah merenung. Bukan hanya soal dosa masa lalu, tapi juga soal nasib koper yang entah menghilang di mana. Di Muzdalifah, jutaan orang tidur di tanah, merindukan bantal tapi tetap bahagia. Di Mina, mereka melempar jumrah, bukan hanya batu ke tiang setan, tapi juga kemarahan, kelelahan, dan kekecewaan karena sandal baru hilang lagi.

Namun justru dalam absurditas itulah letak keindahannya. Bahwa mendekati Tuhan memang tidak pernah mudah. Ia bukan perjalanan lima bintang. Ia adalah perjalanan yang menguliti ego, menggugurkan kemewahan, dan menyisakan jiwa yang telanjang. Dan kalau untuk itu perlu barcode, kartu, dan Syarikah, maka biarlah. Toh yang penting adalah sampai, bukan bagaimana kita sampai.

Begitulah haji di tahun 2025. Sebuah perjalanan agung di tengah teknologi, birokrasi, dan panas yang membakar dosa. Sebuah drama spiritual yang kadang terlihat seperti sitcom, kadang seperti reality show, tapi tetap suci, karena niatnya suci.

Pada akhirnya, ketika semuanya usai, ketika jemaah kembali ke tanah air dengan wajah menghitam tapi hati yang putih, kita semua tahu: inilah puncak dari absurditas paling suci. Tempat di mana barcode bertemu Baitullah, dan manusia bertemu dengan dirinya yang paling hakiki, di hadapan Tuhan yang Maha Tahu, bahkan sebelum kita mengisi formulir.

Labbaikallahumma labbaik.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Top