Misteri Hilangnya Michael Rockefeller di Papua: Antara Antropologi, Mistis, dan Takdir

Misteri Hilangnya Michael Rockefeller di Papua: Antara Antropologi, Mistis, dan Takdir

Di suatu senja November 1961, alam Papua tiba-tiba berkonspirasi untuk membuat sejarah dunia jadi lebih absurd. Seorang pangeran minyak dari Amerika, anak orang terkaya sejagat, mendadak nyasar ke sungai penuh buaya di pedalaman Papua, hanya karena ingin, dalam bahasa akademisnya, “mempelajari budaya lokal.” Dalam bahasa kita? “Nyari masalah.”

Michael Rockefeller. Nama belakangnya lebih mahal dari seluruh APBD kota kecil di Indonesia. Kalau kamu googling, yang keluar bukan manusia, tapi museum, kampus, yayasan, gedung pencakar langit. Tapi entah kenapa, manusia ini memilih menukar ranjang mewahnya di Manhattan dengan lumpur tropis dan nyamuk sebesar burung pipit di hutan Papua.

Lebih luar biasanya, dia tidak sedang mencari wifi, bukan juga mencari endorsement TikTok, melainkan mencari arti kehidupan di balik daun-daun Asmat. Absurd? Tentu. Tapi begitulah dunia. Terkadang orang yang punya segalanya justru ingin kehilangan segalanya, demi merasakan makna. Sementara kita yang tidak punya apa-apa, malah sibuk menabung demi iPhone terbaru. Astaghfirullah.

 

Ketika Antropologi Bertemu Alam Gaib

Michael datang bukan untuk menaklukkan. Ia datang untuk memahami. Ia bukan kolonialis gaya lama, tapi kolonialis gaya baru yang sopan, berkamera, dan berjaket safari. Bersama tim dari Harvard, dia membuat film dokumenter berjudul Dead Birds. Judul yang entah kenapa terdengar seperti spoiler dari masa depannya sendiri.

Setelah bergaul dengan Suku Dani dan membuat film tentang burung mati, dia merasa belum cukup. Jiwa petualangnya berbisik, “Ayo, lebih dalam lagi! Ke tempat yang belum ada ojek online!” Maka, dia bertolak ke wilayah Suku Asmat. Lokasi ini lebih liar, lebih mistis, dan konon kalau kamu nyasar ke sana, kamu tidak hanya hilang secara fisik, tapi juga hilang secara eksistensial.

 

Perahu, Buaya, dan Jeriken Iman

Perjalanan menuju Suku Asmat menggunakan perahu kecil. Kecilnya seperti iman kita saat kuota habis dan hujan turun. Sungai Betsj yang mereka susuri adalah kombinasi sempurna antara Indiana Jones dan kiamat lokal arus deras, buaya lapar, dan badai mendadak seperti dosen killer yang muncul tanpa aba-aba.

Di tengah sungai itu, badai datang. Perahu terbalik. Michael dan kawan-kawan bertahan di atas perahu terbalik sambil menanti pertolongan, seperti kita menanti THR yang katanya “minggu depan cair.” Saat pagi datang, Michael berkata dengan percaya diri, “Saya akan berenang ke daratan. Tenang. Saya punya jeriken.”

Jeriken. Astaga. Anaknya Rockefeller berenang melawan arus dengan modal jeriken kosong. Ini bukan sekadar aksi nekat. Ini puisi keberanian versi industrialis.

Dalam Islam, ada konsep tawakal, berserah diri kepada Allah setelah berusaha. Tapi yang dilakukan Michael tampaknya lebih mendekati nekat plus kapitalisme. Bedanya, umat Islam berdoa dulu, baru nyemplung. Michael? Langsung nyemplung, baru hilang.

 

Misteri yang Lebih Tebal dari Teori Konspirasi

Setelah beberapa hari, timnya sampai ke darat. Tapi Michael? Tidak ada. Kosong. Seperti dompet mahasiswa tanggal tua. Tidak ada jejak, tidak ada tubuh, tidak ada bunyi sisa jeriken. Dunia pun geger.

Nelson Rockefeller, ayahnya, langsung datang ke Papua. Gubernur New York, calon Wakil Presiden AS, datang ke hutan demi seorang anak. Luar biasa. Saking sayangnya, dia tidak cuma kirim pasukan pencari, tapi juga kirim helikopter penuh cinta dan dolar.

Namun, tetap saja nihil. Tidak ada tanda. Tidak ada jasad. Tidak ada “last seen online” di WhatsApp (Maaf, zaman itu belum ada ya). Habis ditelan alam. Maka, lahirlah berbagai teori, dimakan buaya, dibunuh suku lokal, diserap ke dimensi lain, atau… menyatu dengan masyarakat Asmat dan hidup damai sebagai dukun estetika lokal.

Banyak teori, tapi semua nihil bukti. Seperti laporan pertanggungjawaban korupsi yang “katanya” lengkap.

 

Islam Mengajarkan, Dunia Ini Sementara, dan Kita Bukan Tuhan

Dalam keabsurdan cerita ini, ada pelajaran agung dari Islam, kita bukan penguasa hidup. Allah-lah yang mengatur takdir.

Michael, dengan segala kekayaannya, kekuasaan ayahnya, dan akses tak terbatas ke teknologi Amerika, tetap bisa hilang tanpa jejak. Kenapa? Karena dunia ini bukan milik Rockefeller. Dunia ini milik Allah.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).

Lihat? Ajaran Islam mengingatkan kita, bahkan ketika kamu anak orang terkaya di dunia, kamu tetap tidak bisa melawan kehendak Allah. Maka, untuk apa sombong? Untuk apa menimbun harta? Untuk apa merendahkan orang miskin?

Michael Rockefeller mengajarkan satu hal dengan tubuhnya yang hilang, bahwa hidup bukan tentang berapa miliar kamu punya, tapi seberapa tunduk kamu pada kuasa yang lebih besar.

Cerita Michael Rockefeller bukan hanya kisah antropologi. Ini adalah kisah eksistensial absurd yang mengingatkan kita akan satu hal, dunia ini panggung sandiwara. Jeriken pun tak bisa menyelamatkanmu dari takdir.

Kalau saja Michael mengenal Islam lebih dalam, mungkin dia akan lebih siap menghadapi alam, bukan dengan jeriken, tapi dengan doa, dzikir, dan tawakal. Mungkin dia akan berkata, bukan “Saya akan selamatkan kalian,” tapi, “Semoga Allah menyelamatkan kita semua.”

Mungkin, justru karena ia hilang, kita jadi bisa belajar bahwa Islam itu bukan agama mistik yang usang, tapi agama yang mengajarkan kerendahan hati, keberanian sejati, dan logika keimanan di tengah dunia yang makin tak logis.

Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar.

Semoga Rockefeller tenang di mana pun dia berada. Semoga kita, yang hidup di zaman absurd ini, masih mau belajar dari kehilangannya.

 

Foto: hanya ilustrasi, bukan sebenarnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Top