Umat Islam dan Sektarianisme: Menjaga Warisan Konflik atau Menjaga Ukhuwah?

Umat Islam dan Sektarianisme: Menjaga Warisan Konflik atau Menjaga Ukhuwah?

Tragedi Umat Islam yang Lupa Bahwa Mereka Sebenarnya Satu Kubu

 

Di ujung langit ketujuh, di antara arak-arakan bidadari dan aroma kasturi yang mengambang dari kebun-kebun abadi, para penghuni surga tampak cemas. Bukan karena takut neraka, bukan karena kehabisan susu dan madu, tapi karena… satu hal yang sejak di dunia tak pernah selesai dibahas, “Dia masuk surga juga? Padahal dulu Syiah, kan?”

Beginilah akhir tragis dari sebuah umat besar yang konon katanya diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin, tapi malah sibuk menjelma jadi laknatan lil jama’ah lain. Betapa ironis. Sebuah komunitas spiritual global, dipersatukan oleh wahyu, hancur luluh lantak hanya karena… perbedaan cara melipat sajadah setelah shalat.

Sejak wafatnya Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia, paling sabar, paling keren sepanjang zaman, umat Islam seolah-olah berkata, “Terima kasih ya Rasul, kami akan lanjutkan perjuanganmu… dengan cara saling tikam, saling boikot, saling lempar sandal, dan sesekali saling bom masjid. Demi kebenaran, tentunya.” Persatuan? Itu hanya slogan di spanduk lomba 17 Agustus di masjid. Yang benar-benar terjadi adalah pecahnya umat menjadi serpihan-serpihan yang saling klaim kebenaran seperti sales asuransi spiritual.

Lihatlah betapa gigihnya kita mempertahankan warisan konflik. Sunni dan Syiah, dua anak kandung dari sejarah Islam, berkompetisi bukan dalam ketakwaan, tapi dalam lomba saling kutuk-mengutuk. Yang satu menyebut yang lain sebagai pengkhianat, yang lain balas menyebut sebagai pencuri khilafah. Ali jadi alasan baku hantam, padahal Ali sendiri dulu ngaji bareng sama Abu Bakar. Sementara umatnya? Lebih militan dari para sahabat.

Jangan lupakan perang mazhab. Wahai umat manusia, jika kamu pikir Islam itu satu, maka duduklah sebentar di musholla kampus, amati lima mahasiswa shalat berjamaah dari lima mazhab berbeda. Yang satu ruku’ duluan, yang satu telat sujud, yang satu ngangkat tangan kayak mau angkat beban 10 kilo, yang satu baca “amin” kayak ngelantang azan subuh. Yang satu lagi? Dia observer, belum shalat, tapi sudah mencatat siapa yang bid’ah dan siapa yang selamat.

Betapa seriusnya kita dalam urusan perbedaan. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam berdiskusi apakah qunut subuh itu sunnah atau bencana, apakah celana di atas mata kaki itu syarat masuk surga atau hanya gaya busana Nabi. Namun ketika anak muda Islam terjerumus narkoba, ketika ekonomi umat dikuasai segelintir taipan kafir kapitalis, kita diam seperti cicak di bawah speaker masjid. Goyang-goyang, tapi tidak pernah bicara.

Jika kamu berpikir ini semua hanya kesalahpahaman teologis yang bisa didamaikan lewat konferensi internasional, kamu salah. Sebab, sektarianisme dalam Islam bukan sekadar beda pendapat, tapi sudah naik level menjadi kompetisi global ala reality show, “Mazhab Wars – The Final Fitnah”. Di satu negara, Syiah dituduh menyembah Ali dan dipaksa bertaqiyah. Di negara lain, Sunni dituduh munafik dan dipantau seperti intel. Di antara mereka, umat awam jadi korban, mati di tengah hujan peluru, sementara para ulama debatnya tetap live di TV, disponsori oleh deterjen halal.

Tak sampai di situ. Radikalisme muncul bagaikan jerawat di wajah remaja, sulit dihilangkan dan selalu muncul di saat tidak tepat. Sekelompok manusia, yang entah dari mana dapat inspirasi, merasa bahwa satu-satunya jalan menuju ridha Allah adalah dengan meledakkan tubuh di tengah pasar. Mereka yakin bahwa tombol bom adalah shortcut ke surga, dan bahwa yang berbeda dari mereka pasti agen Yahudi atau minimal pengikut Dajjal. Maka, meledaklah masjid-masjid, meledak pula akal sehat.

Padahal Islam yang mereka bela dengan ledakan itu, adalah agama yang diajarkan Rasulullah dengan air mata dan pelukan. Agama yang mengharamkan membunuh satu nyawa seolah membunuh seluruh manusia. Tapi tentu saja, ayat itu hanya berlaku untuk musuh ideologi mereka. Untuk yang “sesat”? Ah, itu diskon pahala jihad katanya.

Ironi terbesar adalah ketika dialog antarmazhab diselenggarakan. Dihadiri oleh para tokoh bergelar doktor dan syaikh, dibuka dengan salam yang panjang dan basa-basi ukhuwah, lalu ditutup dengan statement yang sebenarnya berarti, “Kami tetap benar. Yang lain silakan insaf.” Tidak ada saling dengar, tidak ada saling pahami, hanya ada saling tunggu giliran bicara. Ini bukan dialog. Ini stand-up comedy intelektual tanpa tawa.

Namun yang paling menggelikan adalah umat Islam mengira bahwa kelak di akhirat akan ada pintu masuk surga bertuliskan “Mazhab Syafi’i”, “Lorong Wahabi”, “Lift Ekspres Golongan Tarekat”, dan “Tangga Manual Jamaah Takfiri.” Padahal surga itu tidak seperti pusat perbelanjaan modern dengan food court berbagai aliran. Surga itu satu, dan tiket masuknya bukan mazhab, bukan ormas, bukan golongan, tapi taqwa dan amal saleh. Kalau kamu mati membawa bendera mazhab tapi tidak membawa akhlak, siap-siap ditahan di imigrasi akhirat. Malaikat Ridwan tidak menerima KTA ormas.

Sungguh tragis. Umat yang disebut-sebut sebagai yang terbaik, justru bertengkar seperti anak-anak rebutan mainan. Kita telah mengubah agama ini menjadi arena gladiator spiritual, tempat siapa yang paling keras bicara dianggap paling dekat ke langit. Kita tidak lagi saling mencintai karena Allah, tapi saling mencurigai karena ustadz bilang mereka beda.

Rasulullah SAW bersabda bahwa perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang adalah seperti satu tubuh. Tapi kini tubuh itu sudah stroke, jantungnya sektarianisme, ginjalnya radikalisme, dan otaknya… nyinyirisme. Kita butuh operasi besar-besaran, bukan sekadar seminar “ukhuwah Islamiyah” dengan spanduk ceria dan foto-foto makan siang.

Kita butuh Islam yang kembali kepada cinta, kepada akhlak, kepada ilmu yang tidak pongah. Islam yang bisa tertawa bersama, tidak marah hanya karena teman shalatnya tidak mengangkat tangan. Islam yang menghargai bahwa perbedaan adalah rahmat, bukan celah untuk menghardik dan melempar kursi.

Sebab jika kita tidak kembali ke jalur persatuan, maka bersiaplah untuk menjadi umat yang paling lucu, lucu dalam kesengsaraan, lucu dalam konflik, lucu karena merasa paling benar, tapi lupa kalau Tuhan tidak butuh pembelaan dari orang yang tidak bisa menahan marah saat azan subuh dibacakan pakai nada minor.

Akhirnya, mari kita akui, masalah sektarianisme ini bukan karena agama Islam tidak sempurna, tapi karena sebagian pemeluknya lebih sibuk menjaga warisan konflik dari menjaga shalat subuhnya. Lebih semangat menulis status panjang mengkafirkan, dari menghafal satu ayat Al-Qur’an.

Surga tidak bertanya kamu Syiah atau Sunni. Surga bertanya, kamu berbuat baik atau tidak. Mungkin, di akhirat nanti, kita semua akan duduk di satu majelis, makan dari nampan yang sama, lalu tersenyum geli, menyadari bahwa di dunia dulu… kita ribut soal hal-hal yang ternyata… tidak begitu penting.

Semoga Allah memaafkan kita. Semoga para malaikat masih sabar mencatat amal. Dan semoga umat ini suatu hari sadar: lebih baik kita rebutan kasih sayang Allah, daripada rebutan mic khutbah dan stempel “paling benar.” Aamiin.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Top