Sebuah Elegi Kematian Massal dalam Ritual Suci
Mina… tempat para peziarah berseru dalam bahasa langit, menggapai rahmat, menembus panas gurun, dan akhirnya, mati berdesakan, seperti semut dalam botol kaca yang tertutup rapat. Maka kita pun menulis ini, dengan pena berkabung dan tinta airmata, mengenang tragedi yang mungkin tak ingin diingat oleh mereka yang bertanggung jawab, tapi wajib diingat oleh sejarah dan kemanusiaan.
Musim haji adalah panggilan ilahi. Tapi pada 2 Juli 1990, Mina menjelma menjadi panggung teater kematian. Di Terowongan al-Muaisim, yang seharusnya jadi jalur menuju pengampunan, justru ribuan jiwa dijemput maut dalam suasana penuh hiruk dan jerit.
Ada 50.000 jamaah. Terowongan berkapasitas 26.000. Hanya matematika Tuhan yang bisa menjelaskan bagaimana ratusan manusia bisa masuk dan tak pernah keluar kecuali dalam kantong mayat. Ventilasi mati, oksigen menipis, suhu mencapai 44,44°C, angka yang bahkan tampaknya disusun oleh iblis dengan kalkulator neraka.
Ketika manusia dijemput maut bukan oleh waktu, tapi oleh ketidaksigapan protokol dan angkuhnya kuasa, maka kita perlu bertanya: apa arti hidup di tengah ritual kematian masal?
Terowongan yang seharusnya menjadi jalan keselamatan, berubah menjadi liang kubur horizontal. Saat itu, tidak ada kasta, tidak ada negara. Yang ada hanya sesak, peluh, dan kaki-kaki yang menginjak tubuh-tubuh yang roboh. Mungkin malaikat maut pun bingung menghitung: siapa dulu yang harus dicabut nyawanya ketika semua berjatuhan bersamaan?
Ceritanya begini. Pagi itu…Jamaah bersiap menuju Jamarat. Di pikiran mereka hanya satu: melontar jumrah, melempar simbol setan. Ironis, karena hari itu, setan sedang bersantai, kerja kotornya sudah dilakukan manusia.
Dalam Terowongn, arus manusia tersumbat. Tidak ada celah. Keringat menjadi pelumas tubuh. Langkah jadi dorongan. Mereka tidak berjalan, mereka dibawa oleh arus, seperti arang yang mengalir dalam sungai api.
Udara mati, sistem ventilasi tak berfungsi. Udara menipis. Hawa panas naik. Beberapa mulai kejang. Yang jatuh tak sempat bangkit, hanya ditindih, diinjak, dan akhirnya dibisiki oleh kematian. Kepanikan pun terjadi. Tujuh orang jatuh dari jembatan. Teriakan membelah udara. Ribuan lainnya mencoba berlari, padahal tak ada ruang. Dalam keputusasaan itu, jamaah saling injak, tidak karena kebencian, tapi karena insting bertahan hidup.
Kematian tidak terhindarkan. Mayat bergelimpangan seperti batu-batu yang disingkirkan dari jalan suci. Mereka yang masih hidup, memanjat tumpukan tubuh hanya untuk bernapas.
Lalu, bagaimana respon pemerintah? Ternyata, sunyi. Tertutup. Data korban baru diumumkan 36 jam kemudian. Ini seperti laporan keuangan perusahaan bangkrut. Tidak ada sirine, hanya bisikan: “Ini takdir.”
Menurut berbagai sumber, jumlah jamaah haji Indonesia yang tewas berkisar antara 562 hingga 649 orang. Ironis. Negeri dengan umat Muslim terbesar di dunia, justru paling banyak kehilangan warganya dalam prosesi suci. Pada 6 Juli 1990, Indonesia menetapkan Hari Berkabung Nasional, seakan berkata: “Maaf, kami hanya bisa mengibarkan bendera setengah tiang, karena yang utuh telah roboh.”
Jika ibadah adalah jalan keselamatan, mengapa yang tertinggal justru trauma dan jasad? Jika kerajaan tempat Ka’bah berdiri adalah pelayan dua tanah suci, mengapa mereka bertindak seperti pemilik rumah yang tidak peduli jika tamunya mati di ruang tamu?
Jika sistem modernisasi haji begitu canggih, mengapa terowongan ventilasinya kalah dari gorong-gorong kota tua di Asia Tenggara?
Mereka yang mati tidak mendapatkan headline. Mereka tidak diberi patung, apalagi museum. Mereka hanya menjadi angka dalam dokumen Departemen Agama. Mungkin jika tragedi ini terjadi di Eropa, kita akan melihat Netflix membuat film dokumenter. Tapi ini Mina. Ini Muslim. Ini tubuh-tubuh yang mati saat bertakbir. Terlalu suci untuk jadi konten, terlalu politis untuk diakui.
Apa itu hidup, jika akhirnya berakhir bukan di kasur, bukan di medan perang, bukan di puncak ibadah spiritual, tapi di tengah kerumunan yang panik? Mungkin hidup adalah antrian panjang menuju keabadian, dan kadang, antrean itu terlalu sesak untuk dinikmati.
Kita sering membayangkan kematian datang seperti malaikat yang memeluk. Tapi di Mina, ia datang seperti palu godam yang menghantam dahi kita dari belakang, tanpa permisi.
Hari ini, saat jutaan jamaah kembali berdatangan ke Mina, kita mesti berhenti sejenak. Diam. Dan mengenang. Bukan dengan air mata, tapi dengan kesadaran: bahwa ibadah suci pun bisa menjadi ladang kematian, jika sistem abai, dan kuasa lebih mementingkan citra daripada nyawa.
Selamat jalan, para syuhada Mina.
Kalian tidak mati.
Kalian hanya lebih dulu sampai.
Sementara kami, masih berdesakan…
…dalam kemunafikan dunia.
Barangkali tragedi ini bukan tentang kematian. Tapi tentang bagaimana kita hidup setelah menyaksikannya. Apakah kita hanya membaca dan melupakan? Atau kita akan menggugat—bukan takdir, tapi tata kelola?
Sebab Tuhan tak pernah salah. Tapi manusia? Ah, itu kisah lain—kisah panjang tentang ego, keserakahan, dan ketakutan pada reputasi.
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka) mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqarah: 154)
Mereka hidup.
Dan kita masih tertidur.*
