Pandangan Islam Dan Solusi Al-Quran Jika Donald Trump dan Xi Jinping Perang Dagang

Oleh Rosadi Jamani

Pada suatu pagi tampak biasa saja di Washington. Burung-burung camar Amerika mungkin sedang mengepakkan sayap dengan damai. Sementara Donald Trump bangun dari tidurnya di atas kasur berlapis 1.000 benang sutra. Dengan rambut keemasannya yang tidak tunduk pada hukum gravitasi, ia mengambil ponselnya. Lalu, membuka Twitter, dan menuliskan kata-kata yang mengguncang dunia, ancaman tarif untuk 75 negara. Iya, 75 negara. Itu bukan jumlah peserta lomba balap karung di kampung, tapi negara-negara berdaulat dengan ekonomi masing-masing.

Dengan gaya seperti Kaisar Romawi yang baru saja habis menonton “Game of Thrones”, Trump menetapkan tarif bea masuk untuk barang-barang impor dari berbagai negara. Ada yang dikenai 10 persen, ada yang 20 persen, dan Indonesia, negeri dengan warganet paling aktif di dunia, diberi jatah manis, 32 persen.

Namun, dunia benar-benar dikejutkan saat Trump memutuskan tarif untuk China. Tidak hanya ditetapkan, tapi juga dikuadratkan secara spiritual dan emosional. Bukan 32 persen, bukan 46 persen, tapi 125 persen. Ya, satu dua lima. Mungkin dia mengira itu adalah skor golf. China tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan tarif untuk barang-barang Amerika sebesar 84 persen. Perang dagang pun pecah seperti kacang rebus di bawah tekanan gigi palsu.

Dampaknya? Dunia langsung masuk angin ekonomi. Saham-saham di Wall Street seperti habis digebuk makhluk ghaib. IMF dan World Bank langsung bikin press conference sambil garuk-garuk kepala pakai kalkulator. Negara-negara berkembang mendadak seperti mahasiswa akhir bulan, duit menipis, kebutuhan banyak, tapi tetap harus bayar kos. Harga barang naik seperti doa yang tak kunjung dikabulkan. iPhone terbaru yang sebelumnya sudah mahal, kini harganya seperti mahar pernikahan raja Arab. Produk-produk Amerika yang dulu digemari, kini ditatap dengan curiga seperti mantan yang minta balikan tapi masih punya utang.

Paling tragis, dunia mendekati resesi. Satu cuitan dari seorang presiden berambut oranye bisa menyebabkan perusahaan tutup, buruh dirumahkan, dan ekonomi global demam tinggi. Ini bukan ekonomi digital, ini ekonomi emosional.

Namun, dalam kekacauan yang penuh ironi ini, Islam hadir dengan suara yang sejuk dan logis. Di tengah hingar-bingar ego politik dan diplomasi tarif, Islam telah lama mengajarkan prinsip perdagangan yang tidak hanya sehat tapi juga bermartabat.

Surah Al-Baqarah ayat 275 dengan tegas menyatakan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Artinya, transaksi ekonomi seharusnya berlangsung adil, sehat, dan tanpa unsur pemerasan. Tidak ada dominasi negara super power yang memanfaatkan kekuatannya untuk menjajah pasar negara lain. Islam tidak mengenal konsep “kita besar, kalian tunduk”. Yang ada hanyalah konsep “sama-sama ridha, sama-sama untung, sama-sama berkah”.

Surah An-Nisa ayat 29 bahkan lebih mendalam lagi. Islam melarang keras praktik memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Dalam konteks ini, menetapkan tarif 125 persen untuk menjatuhkan negara lain hanya demi kepentingan politik dalam negeri adalah bentuk pemakan harta secara batil yang sudah naik level, bukan hanya batil, tapi juga brutal. Tarik menarik tarif ini bukan lagi transaksi ekonomi, tapi duel berdarah antara dua raksasa yang melupakan bahwa bumi ini milik bersama, bukan ring tinju antar superpower.

Rasulullah SAW pun memberi peringatan keras terhadap ketidakadilan dalam perdagangan. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, disebutkan bahwa pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada di akhirat. Artinya, kejujuran dalam berdagang bukan hanya soal moral duniawi, tapi juga posisi surgawi. Sementara itu, mereka yang mempermainkan tarif demi politik domestik, memanipulasi pasar demi popularitas, mereka tidak hanya mengacaukan ekonomi, tapi juga sedang mencatat dosa di papan langit.

Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW sendiri adalah pedagang yang begitu dihormati karena kejujurannya. Bahkan saat perdagangan antar kabilah penuh intrik, beliau tetap teguh pada prinsip keadilan dan saling ridha. Maka sungguh ironis, di era modern ini, perdagangan global justru dikendalikan oleh individu-individu yang mungkin tidak pernah berdagang kecuali saham milik sendiri.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi menegaskan, perdagangan internasional dalam Islam harus dilakukan dengan prinsip saling menguntungkan dan menghindari eksploitasi. Perang dagang yang merugikan pihak lain dengan cara tidak adil. Ini secara jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dunia saat ini seperti pasar yang dikuasai dua mafia besar, satu berbendera bintang, satu berbendera bintang lima. Keduanya bermain api dengan bom tarif. Sementara negara-negara kecil seperti Indonesia hanya bisa pasang kipas angin dan berharap api itu tidak sampai ke warung sebelah.

Prof. Wahbah Az-Zuhaili dalam karya agungnya Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu menegaskan, Islam melarang segala bentuk monopoli dan perdagangan yang mengganggu keseimbangan ekonomi. Apa yang dilakukan oleh Amerika melalui tarif super besar itu tak ubahnya monopoli gaya baru. Bukan dengan memborong barang, tapi dengan menutup akses pasar. Ini bukan hanya menciptakan krisis dagang, tapi juga mengundang ketidakstabilan politik, migrasi tenaga kerja, dan tentu saja, meningkatnya harga mie instan impor di kampus-kampus luar negeri.

Sementara itu, data menunjukkan bahwa selama perang dagang ini, pertumbuhan ekonomi global melambat. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan dunia dari 3,9 persen menjadi hanya 3,0 persen. Itu artinya, dunia semakin lambat bergerak, seperti sepeda ontel yang dipakai naik ke bukit sambil bawa galon.

Di tengah semua itu, umat Islam seharusnya menjadi mercusuar keadilan ekonomi global. Bukan hanya sebagai konsumen pasif yang pasrah dengan harga impor, tapi sebagai pelaku dagang yang menjunjung prinsip adl (keadilan), sidq (kejujuran), dan amanah (kepercayaan). Islam bukan hanya agama yang mengatur salat dan puasa, tapi juga mengatur bagaimana kita berdagang, bernegosiasi, dan membangun sistem ekonomi dunia yang tidak dikuasai oleh satu jari dan satu akun Twitter.

Jika Trump terus bermain dengan tarif, dan China terus membalas dengan tarif, lalu dunia terus menggigil dalam ketidakpastian, mungkin sudah saatnya dunia mendengarkan seruan Islam. Mari berdagang dengan adil, mari membangun sistem ekonomi yang tak hanya kuat di angka, tapi juga kuat di akhlak.

Karena di akhirat nanti, bukan tarif 125 persen yang akan ditanya. Tapi siapa yang engkau eksploitasi, siapa yang engkau tipu, dan siapa yang engkau rugikan demi politik dan gengsi.

Sungguh, ekonomi yang dibangun di atas kicauan amarah, tidak akan pernah bisa melawan perdagangan yang dibangun di atas kejujuran dan takwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Top