Ketika Ka’bah Berdarah dan Sumur Zamzam Jadi Kolam Mayat

Setiap tahun, jutaan umat Islam berbondong-bondong ke Makkah. Mereka menyebutnya panggilan Tuhan. Ada yang menjual tanah, ada yang jual perhiasan, ada pula yang jual warisan keluarga demi mendapatkan kursi di pesawat Garuda ke Tanah Suci. Dari televisi, terdengar lantunan sendu “Labbaikallahumma labbaik…” seolah langit pun ikut tersedu-sedu. Tapi sebelum kita terlalu hanyut dalam syahdu, mari tarik napas dalam-dalam dan buka lembaran sejarah yang sudah lama dibungkus tisu basah bernama romantisme. Karena faktanya, ibadah haji pernah diselimuti genangan darah, jeritan maut, dan drama yang bahkan sinetron Ramadan tak sanggup menirunya.

Pada tahun 930 M, sebuah kelompok bernama Qaramitah datang ke Makkah. Tapi mereka bukan datang untuk tawaf. Mereka bukan jamaah, mereka penjagal. Dipimpin oleh Abu Tahir al-Jannabi, mereka menyerbu Makkah saat musim haji. Iya, saat jutaan umat Islam datang ke sana untuk sujud, mereka justru datang untuk membantai. Sekitar 30.000 jamaah dibantai. Tidak, ini bukan hoaks, bukan fiksi, ini sejarah. Mereka membunuh orang-orang yang sedang bertakbir, bersujud, dan berdoa. Mereka tak hanya membunuh, mereka membuang mayat ke dalam sumur Zamzam. Sumur yang selama ini kita puja-puji sebagai air suci, dijadikan kolam mayat. Ini bukan hanya pembantaian, ini deklarasi kegilaan teologis atas nama “ajaran murni”.

Mereka mencuri Hajar Aswad dari Ka’bah. Ya, batu hitam yang konon berasal dari surga itu, dicungkil dari tempatnya dan dibawa ke Bahrain. Mungkin mereka pikir itu souvenir, atau mungkin trofi revolusi. Selama 22 tahun, dunia Islam hidup tanpa Hajar Aswad. Tanpa ciuman sakral yang biasa jadi rebutan jamaah sampai siku kanan bertemu tulang rusuk kiri. Dua dekade umat Islam berdoa ke arah Ka’bah yang cacat. Tapi umat ini seperti biasa: cepat lupa, cepat move on. Hajar Aswad akhirnya dikembalikan, dan kita pun mencium batu itu seolah-olah ia tidak pernah diculik, tidak pernah diseret-seret melewati gurun dan dijadikan alat tawar-menawar.

Lalu waktu berlalu, dan dunia Islam mengira tragedi semacam itu tinggal dongeng masa lalu. Tapi sejarah, seperti biasa, suka mengulang kisah dengan cara yang lebih absurd. Tahun 1979, di pagi yang tenang, sekelompok militan pimpinan Juhayman al-Otaybi menduduki Masjidil Haram. Alasannya sederhana, mereka mengklaim telah menemukan al-Mahdi. Bukan Mahdi dari warung kopi sebelah, tapi sosok mesianis yang katanya akan membawa keadilan ke seluruh dunia. Alih-alih menunggu Mahdi turun dari langit dengan pelita cahaya, mereka memilih opsi “kudeta spiritual”.

Dua minggu Masjidil Haram dikepung. Peluru berseliweran di antara tiang-tiang tempat ribuan manusia biasa shalat. 127 orang tewas, 451 luka-luka. Tempat yang katanya paling suci di bumi berubah menjadi arena baku tembak, lengkap dengan senapan, granat, dan teriakan “takbir” yang tak lagi terdengar sakral tapi sarkastik. Ente tahu siapa yang akhirnya menyelamatkan Tanah Suci itu? Bukan pasukan jin, bukan malaikat, tapi pasukan khusus dari Prancis. Negara yang bahkan tidak percaya pada Tuhan, datang menyelamatkan rumah-Nya.

Sejak itu, pemerintah Saudi mulai menerapkan aturan agama yang lebih ketat. Perempuan makin dibatasi, ulama makin dikontrol, dan masyarakat makin dibungkus dalam konservatisme yang katanya demi mencegah “fitnah Mahdi jilid dua.” Tapi apakah pelajaran benar-benar dipetik? Ataukah sejarah kembali dibungkus plastik bening lalu disimpan dalam lemari museum, hanya untuk diceritakan ulang setiap kali musim haji tiba?

Islam adalah agama damai, kita semua sepakat. Tapi sejarah Islam? Ah, itu soal lain. Sejarah Islam, jika dibaca tanpa filter romansa dan syair ustaz, adalah parade perebutan kekuasaan yang dibumbui ayat dan dikemas dalam kemasan tauhid. Ka’bah yang kita sujud kepadanya hari ini, pernah jadi medan perang antara ideologi dan ambisi, antara keyakinan dan kekerasan. Bukan karena Ka’bahnya yang salah, tapi karena manusia selalu punya bakat luar biasa dalam mencemari yang suci dengan dalih menyucikan.

Sejarah mengajarkan, manusia tak belajar dari sejarah. Maka dari itu sejarah harus diulang, agar manusia kembali dibuat bodoh, lalu baru menyadari kebodohannya, meski sering kali setelah semuanya terlambat. Setiap tumpahan darah di Masjidil Haram, setiap peluru yang ditembakkan di bawah bayang-bayang Ka’bah, adalah cermin. Bukan cermin untuk melihat dosa orang lain, tapi cermin untuk menatap diri sendiri, mengapa tempat suci tak pernah cukup untuk membuat kita suci?

Kita mencium Hajar Aswad, tapi sering lupa mencium kebenaran. Kita berlari kecil saat sa’i, tapi enggan berlari menjauhi ego. Kita melempar jumrah dengan batu, tapi tak pernah melempar kesombongan, fanatisme, dan kefanatikan ideologis yang menyamar sebagai iman. Dan sejarah, oh sejarah, ia selalu mencatat segalanya. Bahkan jika kita memilih untuk pura-pura lupa.

Sebelum Anda berangkat haji tahun ini, sebelum Anda menukar semua tabungan demi hotel bintang lima dan air zamzam kemasan, tanyakan pada diri sendiri: apakah Anda datang ke Makkah untuk mencium batu, atau untuk memperbaiki jiwa? Karena Ka’bah tidak butuh penjaga. Yang butuh dijaga adalah hati kita. Sejarah sudah menunjukkan: bahkan Tanah Suci bisa berubah jadi ladang pembantaian, jika manusia mengaku membawa Tuhan tapi lupa pada kasih-Nya.

Maka labbaiklah dengan hati, bukan hanya dengan bibir. Karena sejarah sedang mengintip, siap mencatat lagi darah baru jika manusia kembali jatuh cinta pada kekuasaan lebih daripada pada kedamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Top