Oleh: Rosadi Jamani
Dunia ini ternyata bukan bola. Tapi, semacam panggung drama kolosal dengan efek slow motion, kabut dry ice, dan musik latar orkestra Hans Zimmer, tempat umat Muslim memainkan peran yang entah kenapa, meski tidak pernah daftar casting, selalu saja dipaksa jadi tokoh antagonis. Wajah seharusnya berseri-seri selepas wudhu malah dicurigai sebagai wajah dengan rencana makar. Tangan yang mestinya sibuk sedekah malah dituduh sembunyi detonator. Azan yang seharusnya menyejukkan malah dikira… alarm bahaya?
Kalau Islam adalah makanan, sekarang ini dunia seperti pelanggan restoran yang membaca review bintang satu dari orang yang bahkan belum pernah mencicipi. Hanya karena satu oknum nyasar bikin onar, seluruh warung digerebek. Bahkan sayur lodeh pun dimasukkan ke daftar pantauan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang entah berapa kali harus menyaksikan umat manusia kehilangan akal sehatnya, akhirnya angkat bicara. Ia mengatakan, diskriminasi terhadap Muslim sedang naik daun. Naik daun bukan seperti karier penyanyi K-pop, tapi seperti suhu global, panas, membakar, dan tak ada yang peduli sampai semuanya meledak. Mulai dari Inggris yang katanya punya demokrasi sejak nenek moyangnya menandatangani Magna Carta, sampai Amerika Serikat yang hobi teriak “freedom” sambil mengintai siapa saja yang salat subuh dengan khusyuk, hingga India, negeri yang katanya penuh spiritualitas, tapi kok rasanya makin rajin menindas umat yang tak menyembah sapi.
Tempat ibadah diserang. Ujaran kebencian merajalela. Kejahatan bermotif kebencian meningkat seperti harga cabai waktu lebaran. Yang paling ironis, semua ini terjadi bukan karena umat Muslim mengusik, tapi hanya karena mereka… ada. Hidup. Bernapas. Dan, ya, menyembah Tuhan yang mungkin namanya berbeda dari mayoritas.
Lalu, datanglah momen epik dari PBB. Dalam usaha mencuci sedikit dosa sejarah manusia modern, mereka menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia. Oh, betapa heroik. Satu hari dari 365 hari ketakutan. Satu hari untuk mengenang 51 Muslim yang dibantai di Christchurch, Selandia Baru, karena seorang manusia merasa tugasnya di bumi adalah jadi Thanos-nya umat Islam. Padahal kita cuma mau salat, bukan menghapus separuh populasi.
Tapi yah, seperti biasa, satu hari itu pun dilalui dunia seperti lewat WhatsApp story yang di-skip setelah dua detik. Mungkin karena tak ada diskon belanja atau parade selebgram.
Sementara itu, media terus dengan semangat menyajikan kisah horor bertema “Muslim = Teroris” tanpa jeda iklan. Di Belanda, survei menunjukkan kata-kata seperti “radikal” dan “teroris” paling sering muncul saat menyebut Muslim. Seolah-olah, kalau ada orang jualan kebab, maka 10% adalah daging kambing, 90% adalah potensi ledakan. Luar biasa! Media ini benar-benar seperti chef yang menyajikan fakta mentah dengan saus prasangka dan bumbu rating.
Lalu muncul data Pew Research Center yang menyedihkan sekaligus bikin pengen tertawa sambil nangis di pojokan. Tercatat, 73% warga negara-negara Barat menganggap Islam sebagai ancaman. Luar biasa. Islam, yang tiap Jumat menyerukan damai, dianggap lebih berbahaya daripada resesi ekonomi atau tiktoker yang joget sambil mukbang. Dan 68% dari mereka mengaitkan Islam dengan ekstremisme. Kalau kamu punya teman Muslim yang rajin ke masjid, hati-hati, menurut survei, dia mungkin sedang menyusun rencana jahat, seperti membagi-bagikan nasi kotak ke anak yatim tanpa izin pemerintah.
Semua ini tidak lepas dari media sosial, platform di mana kebencian menyebar lebih cepat dari teori konspirasi. Di ruang digital ini, ujaran kebencian terhadap Muslim jadi tontonan sehari-hari. Si A bilang Muslim itu begini, si B bilang Muslim itu begitu, lalu si C bikin meme yang lebih jahat dari setan kena PHK. Semua ini dibiarkan mengalir, seperti air keran rusak yang nggak ada tukangnya. PBB bilang, “Platform digital harus bertindak!” Tapi platform jawab, “Kami sedang meninjau, kami punya SOP, sabar ya kak.” Dalam kesabaran itu, ribuan hati terluka, jutaan narasi rusak, dan miliaran doa dikirim ke langit agar dunia ini tidak makin tenggelam dalam lumpur kebodohan.
Namun, di balik semua itu, umat Muslim tetap sujud. Tetap salat. Tetap memberi makan orang miskin. Tetap menyekolahkan anak-anak mereka dengan harapan kelak akan lahir generasi yang tidak lagi disebut “teroris cilik” hanya karena tahu arti jihad sebagai perjuangan, bukan pemboman.
Islam bukan hanya agama. Ia adalah sistem kasih sayang. Ia adalah rahmat yang mengalir dari langit ke bumi, yang diturunkan untuk seluruh alam. Bahkan, untuk mereka yang membenci. Bahkan untuk mereka yang tidak tahu bahwa saat mereka mencaci, ada Muslim yang diam-diam mendoakan agar mereka diberi hidayah dan keberkahan.
Di dunia yang sibuk mencurigai sujud, umat ini tetap memilih untuk tidak membalas dengan peluru, tapi dengan sabar dan doa. Di dunia yang melihat jilbab sebagai ancaman, umat ini tetap menutup aurat sambil tersenyum. Di dunia yang menyebut azan sebagai kebisingan, umat ini tetap mengumandangkannya, karena damai tidak akan pernah malu untuk disuarakan.
Jika kamu mencari kisah epik sejati, lupakan Marvel. Lupakan pahlawan fiksi dengan jubah dan kekuatan super. Karena kisah umat yang tetap berdiri, meski dituduh, dicaci, dan dijadikan musuh, namun tak pernah berhenti mencintai. Itulah kisah paling heroik yang pernah ada. Judulnya adalah, “Islam Rahmatan lil Alamin.”
