Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Saat Plastik Lebih Abadi Daripada Amal Manusia

Bumi Sudah Istighfar, Kita Masih Nyampah

Hari Lingkungan Hidup Sedunia kembali tiba, dan seperti biasa, manusia modern merayakannya dengan penuh semangat, dalam bentuk seminar Zoom bertema “Green Lifestyle” sambil nyeruput kopi kekinian pakai sedotan plastik warna pink neon. Tema tahun ini sangat menyentuh kalbu: “Hentikan Polusi Plastik.” Sebuah seruan yang mulia, yang diucapkan dengan bibir penuh lipstik microplastik.

Tapi mari kita jujur. Kalau bumi bisa ngomong, dia mungkin sudah lama daftar jadi santri dan setiap hari baca doa qunut: “Allahumma najjini min bani Adam…” (Ya Allah, selamatkan aku dari manusia). Karena sejak manusia diciptakan, tidak ada makhluk lain yang seproduktif kita dalam hal membuat sampah, dosa, dan drama.

Polusi plastik hari ini sudah bukan cuma masalah lingkungan, tapi masalah akidah. Bayangkan, saudara-saudara, plastik yang kita buang seenaknya itu akan tetap eksis selama ratusan tahun. Sementara kita, manusia, kadang belum juga seminggu meninggal sudah dilupakan oleh grup WhatsApp keluarga. Bahkan ada ulama tafsir yang belum sempat bicara, plastik sudah duluan nongkrong di dasar laut dan di usus paus biru. Itu pun pausnya masih dibilang “kurang sedekah” gara-gara mati tersedak kantong kresek.

Sebagai umat Islam, kita diberi amanah oleh Allah untuk menjadi khalifah fil ardh, pemimpin di bumi. Tapi banyak dari kita lebih memilih menjadi penimbun Tupperware fil dapur, atau penyebar sedotan fil got. Rasulullah SAW mengajarkan kebersihan sebagai bagian dari iman. Tapi hari ini, kita lebih mengutamakan ‘feed Instagram bersih’ daripada sungai bersih. Coba cek rumah masing-masing, berapa banyak barang dari plastik yang tidak dibutuhkan tapi tetap dibeli karena “lagi diskon”? Di sinilah letak tragedi peradaban: umat manusia kalah iman melawan promo flash sale.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia harusnya menjadi momen untuk bertobat. Bukan sekadar tobat dari dosa digital, tapi juga dari dosa ekologis. Karena setiap botol plastik yang dibuang sembarangan adalah doa kecil untuk mempercepat kiamat. Mungkin selama ini kita menyangka dajjal akan muncul dari negeri jauh, padahal dia sudah lahir di pabrik plastik lokal, menyamar jadi pembungkus es mambo.

Di Indonesia, semangat menyelamatkan bumi sering dibarengi dengan gaya hidup penuh paradoks. Misalnya, kampanye “kurangi plastik” tapi snack-nya tetap dibungkus plastik 3 lapis plus stiker logo. Di masjid diumumkan gerakan Jumat Tanpa Sampah, tapi habis shalat tetap ada sandal jepit plastik yang saling tertukar di luar. Bahkan ada ceramah tentang pentingnya menjaga lingkungan, tapi mic-nya dibungkus plastik agar “tidak kotor”.

Sudah saatnya kita bertanya: apakah bumi ini tempat tinggal sementara atau tempat buang sementara? Sebab dalam Islam, bumi bukan sekadar objek, tapi saksi. Dalam Surah Al-Zalzalah ayat 4-5, Allah berfirman bahwa kelak bumi akan “menceritakan kabarnya” tentang apa yang diperbuat manusia. Bayangkan nanti di akhirat, bumi akan bersaksi: “Ya Rabb, si Fulan ini pernah buang pembalut di sungai. Saksi hidupnya masih nyangkut di jaring nelayan sampai sekarang.”

Islam mengajarkan mizan (keseimbangan), tazkiyah (penyucian), dan ihsan (perilaku terbaik) tapi kita malah menerapkan timbangan palsu, sampah menumpuk, dan plastik selundupan. Padahal Rasulullah SAW bahkan menegur sahabat yang boros air saat wudhu. Lha kita? Wudhu sambil buang botol Aqua ke selokan karena “nggak ada tempat sampah”.

Hari ini, mari kita sadari, menyelamatkan bumi bukan hanya tanggung jawab aktivis lingkungan atau mahasiswa yang ikut demo pakai tote bag. Tapi tanggung jawab kita semua sebagai hamba Allah yang diberi amanah, akal, dan (sayangnya) terlalu banyak plastik. Kalau kita bisa menjaga shalat lima waktu, kenapa nggak bisa menjaga bumi yang hanya satu?

Bayangkan jika setiap masjid menjadi pusat edukasi lingkungan, setiap khutbah Jumat menyentuh tema ekologi, dan setiap wudhu dilakukan tanpa nyampah. InsyaAllah, bumi akan tersenyum, paus akan bisa berenang tanpa khawatir tersedak sandal jepit, dan anak cucu kita tidak harus hidup di planet lain cuma karena kita gagal membuang plastik di tempatnya.

Mari hentikan polusi plastik, bukan sekadar untuk alam, tapi sebagai bentuk taat kepada Allah, dan ikhtiar untuk tidak malu saat bumi nanti menjadi saksi di hadapan-Nya. Karena ketika malaikat mencatat amal, jangan sampai ada catatan berbunyi, “Hamba ini rajin tahajud, tapi buang plastik pop mie di hutan lindung.”

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Kurangi plastik, perbanyak istighfar. Bumi sedang sekarat, jangan kita malah nyumbang racun. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Top