Ketika Umat Islam Disuruh Ngaji Panel Surya dan Bertobat dari Bakar Sampah
Setiap 22 April 2025, diperingati sebagai Hari Bumi. Hari itu baru saja berlalu. Beragam cara manusia memperingatinya. Salah satunya diperlihatkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dengan menanam Sejuta Pohon Matoa. Lantas, seperti apa Islam memandang peringatan Hari Bumi tersebut.
Sseluruh umat manusia bersatu dalam satu suara, “Selamat Hari Bumi!” Di satu sisi, kita bersyukur masih bisa mengucapkannya. Di sisi lain, Bumi sudah megap-megap seperti pasien ICU yang dokter dan keluarganya malah selfie bareng sambil bilang, “Cepet sembuh ya, sayang.”
Tema Hari Bumi tahun ini, “Our Power, Our Planet” yang kalau diterjemahkan secara islami menjadi, “Kekuatan kita adalah milik Allah, dan Bumi ini titipan yang akan kita kembalikan dalam keadaan lebih baik lagi.”
Perlu diketahui, suhu global naik 0,5–1 derajat Celcius. Sekilas, kayaknya biasa aja. Tapi ternyata itu setara dengan kipas angin satu rumah mati, dan satu kampung malah bakar sampah sambil selfie. Badai makin kencang, banjir makin rajin, dan para petinggi masih sibuk membahas siapa yang bajunya paling ramah lingkungan di forum internasional yang digelar… di hotel berbintang dengan AC 17 derajat.
Mari kita buka sedikit Kitabullah. Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”(QS. Ar-Rum: 41)
Kalau zaman dulu ulama tafsir bingung apa maksud kerusakan laut, sekarang tinggal buka berita, tumpahan minyak, karang patah, paus mati makan sandal Crocs.
Imam Al-Qurthubi bilang dalam tafsirnya, “Kerusakan ini adalah hukuman dan ujian atas kebodohan manusia terhadap amanatnya menjaga bumi.” Kita, dengan bangga, mewarisi kebodohan itu sambil mengira beli tote bag dari bahan daur ulang sudah setara dengan jihad fi sabilillah.
Berikutnya, manusia menebang 15 miliar pohon per tahun. Itu artinya, setiap detik ada pohon yang diseret paksa tanpa izin wali, hanya demi jalan tol, pabrik sawit, atau lahan tukang parkir liar. Padahal, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, binatang, atau burung, kecuali itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tapi sekarang logikanya dibalik. “Barangsiapa menebang pohon, lalu menggantinya dengan brosur ‘Kita Menanam Seribu Bibit’, maka itu jadi konten promosi.”
Gas Rumah Kaca: Setan pun Gagal Faham
Dari seluruh karbon yang kita muntahkan ke atmosfer, 25% datang dari makanan. Tapi bukan makanan biasa. Kita bicara tentang sapi yang dipaksa jadi pabrik metana, pupuk kimia yang menyamar jadi “nutrisi tanah,” dan sawah yang sekarang lebih mirip lab percobaan dari Kim Jong-un.
Ketika kita bilang “kurangi emisi,” ada yang marah karena disangka “emisi” itu sejenis makanan Korea. Islam itu cinta kebersihan dan kesederhanaan. Rasulullah SAW hidup dengan sedikit, makan dengan cukup, dan kalau naik kendaraan, beliau gak minta unta turbo V8.
Ibnu Qayyim berkata dalam Zaad al-Ma’ad, “Islam datang untuk menjaga maslahat, dan salah satu maslahat itu adalah menjaga bumi agar tetap layak ditinggali.” Tapi sekarang kita malah berlomba-lomba bikin bumi unlivable, lalu tanya, “Kapan Imam Mahdi muncul?”
Selanjutnya, Allah sudah ngasih matahari gratis tiap hari. Tapi kita, dengan otak yang sudah dilapisi plastik mikrosekat, tetap ngotot pakai batu bara sambil bilang, “Kami ingin yang natural.” Sungguh memalukan. Bahkan setan pun terheran-heran melihat umat manusia yang bersujud lima kali sehari tapi tetap betah hidup dari energi neraka.
Coba renungkan hadis ini, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)
Kalau iman kita setara dengan kebersihan rumah dan lingkungan, maka banyak dari kita sudah murtad tanpa sadar. Kita buang sampah ke kali, lalu shalat minta rezeki lancar. Allah Maha Pemaaf, tapi sungai tetap mampet.
Ibnu Taymiyah mengatakan, “Segala bentuk tindakan yang merusak lingkungan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat dari Allah.” Kita ini amanahnya: Khalifah fil Ardh. Tapi kita malah jadi CEO PT. Perusak Alam Sejahtera.
Solusi Islami Antara Panel Surya dan Tobat Nasional
Bagaimana seharusnya umat Islam merespons Hari Bumi ini? Berikut program revolusioner dari Majelis Tahlil Lingkungan Hidup:
1. Tobat Massal Nasional. Bukan cuma tobat dari maksiat, tapi tobat dari pakai AC 24 jam sambil buka pintu, tobat dari beli galon air tapi buang gelas plastik.
2. Ngaji Panel Surya. Mari kita kaji tafsir energi terbarukan. Ustaz-ustaz harus mulai menyisipkan bahasan “Matahari dan Fitnah Karbon” di setiap ceramah.
3. Gerakan Subuh Hijau. Setiap habis subuh, warga wajib siram pohon, bukan status. Kalau tak sempat, minimal kurangi update pamer gaya hidup yang boros karbon.
4. Jihad Melawan Plastik. Bukan sekadar pakai tas kain, tapi juga jihad menolak sedotan plastik yang dibungkus plastik, lalu disajikan dalam botol plastik.
5. Zakat Karbon. Ini ide absurd tapi inspiratif: Bayar zakat bukan cuma uang, tapi juga “jejak karbon.” Yang naik jet pribadi lima kali seminggu, bayar dua kali lipat.
Hari Bumi 2025 bukan cuma hari buat repost infografis daun hijau. Ini hari untuk bertanya, “Apa kabar bumi yang diwariskan Nabi?” Jangan-jangan kita lebih rajin rawat akun Instagram dari lingkungan sekitar.
Allah sudah mengingatkan, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Tapi kita balas dengan: “Ya Allah, izinkan kami selfie dulu di taman bunga sebelum taman itu jadi mal.”
Wahai umat Islam, sebelum bumi ini pindah ke fase ‘Yaumul Hancurnya Planet’, mari bertobat. Kurangi emisi. Hijrah ke energi bersih. Kalau bisa, stop bakar sampah sambil bilang “ini tradisi.”
Karena kalau bumi sudah mogok, tidak ada planet B. Yakinlah, Mars tidak sedang buka perumahan syariah. *
