Haji, Taksi, dan Rp16 Juta yang Terbang ke Langit
Makkah, 20 Mei 2025, pukul 09.00 pagi waktu Arab Saudi. Langit sedang teduh, tapi suasana batin seorang jemaah haji asal Embarkasi Surabaya bernama Moch. Usman berubah gelap gulita. Setelah melaksanakan umrah wajib dengan penuh kekhusyukan dan keringat, beliau turun dari bus shalawat No. 22 di depan Hotel 809. Napasnya masih tercekat oleh haru spiritual, mukanya berkilau bukan hanya karena wudhu, tapi juga oleh bekas debu jalanan Makkah. Dalam hati, barangkali ia bersyukur telah menyelesaikan satu tahap ibadah yang menjadi impian jutaan umat Islam.
Namun, takdir tidak pernah bisa ditebak. Di saat itu juga, seorang sopir taksi dengan wajah ramah mendekatinya, seperti malaikat pelayan dalam sinetron Ramadhan. Dengan senyum selembut zam-zam dan suara semanis kurma, sopir itu memanggilnya. Mungkin kalimatnya berbunyi, “Ayo Pak, saya antar, gratis, insyaAllah aman.” Kalimat seperti itu, di Tanah Haram, terdengar seperti doa. Tapi rupanya ini bukan malaikat, melainkan bandit bertopeng akhlak.
Saat Pak Usman mendekat, sang sopir menariknya ke dalam taksi seperti babak pembuka dari film thriller spiritual. Di dalam kendaraan yang seharusnya mengantar menuju kenyamanan, justru terjadi drama penuh teror. Uang senilai Rp16 juta dan SAR 350 dilucuti. Totalnya kira-kira setara dengan kulkas dua pintu dan sebulan cicilan mobil, atau dalam ukuran Arab, bisa buat makan nasi mandi dan kambing panggang selama dua minggu.
Namun, dalam tekanan yang membuat lutut orang biasa bisa copot, Pak Usman menunjukkan level keikhlasan yang pantas dicetak dalam kitab-kitab tasawuf modern. Ia mempertahankan dua benda, kartu nusuk dan ponsel. Bukan karena gengsi. Bukan karena teknologi. Tapi karena dua benda itu adalah kunci menuju Masjidil Haram dan komunikasi. Tanpa kartu nusuk, jemaah sekarang tak bisa masuk ke dalam rumah Allah. Bahkan di beberapa titik kota Makkah, kartu itu diperiksa lebih ketat dari paspor oleh petugas bersenjata, berjenggot, dan bermata tajam.
M. Arif, petugas perlindungan jemaah (linjam) sektor 8 PPIH Arab Saudi yang menyampaikan kisah ini di TikTok, mengatakan dengan suara datar tapi dalam maknanya, “Uangnya dia ikhlaskan, kartu nusuknya dia pertahankan.” Sebuah kalimat sederhana yang jika direnungkan, bisa membuat ulama menangis dan kaum mendang-mending terdiam. Ikhlas di sini bukan ikhlas receh. Ini adalah ikhlas level nabi, ikhlas yang menggugurkan dosa sekaligus menunjukkan bahwa spiritualitas sejati bukanlah tentang menang atau rugi, tapi tentang memilih mempertahankan yang benar-benar berarti.
Kepala Bidang Linjam PPIH Arab Saudi, Harun Alrasyid, membenarkan peristiwa tersebut. Bukan Harun Alrasyid dari sejarah Kekhalifahan Abbasiyah yang penuh hikmah, tapi Harun Alrasyid versi 2025 yang lebih sibuk dengan logistik jemaah dan kerawanan kriminalitas. Beliau menyampaikan bahwa korban telah diarahkan untuk melapor kepada aparat keamanan di Makkah, dan sebagai langkah pencegahan, imbauan keras diberikan kepada semua jemaah: jangan keluar sendiri. Jangan merasa kuat. Jangan merasa seperti pahlawan religi yang bisa melawan syaitan di tengah padang pasir. Karena di Makkah pun, godaan dunia masih merajalela, dalam bentuk sopir, promo taksi murah, dan orang asing yang bisa mengutip ayat suci.
Harun menekankan agar jemaah yang ingin menggunakan taksi tidak melakukannya sendirian. Minimal berdua, lebih baik bertiga. Sebab dalam rombongan, peluang untuk diculik lebih kecil, dan kalaupun dirampok, setidaknya ada saksi untuk membuat laporan yang dramatis dan bisa viral. Dunia ini kejam, bahkan di Tanah Suci. Tapi dari kekejaman itu pula lahir pelajaran-pelajaran penting yang hanya bisa didapat dari mereka yang terjun langsung dalam samudra ujian.
Haji bukan hanya perihal fisik dan ritual. Ia adalah medan tempur batin, tempat segala macam nafsu, emosi, dan cobaan bersatu dalam satu kompetisi spiritual. Dalam satu hari, jemaah bisa menangis karena keharuan thawaf, tapi lima menit kemudian meradang karena kehilangan sandal. Dalam satu malam, seseorang bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan, tapi pagi harinya harus bertengkar karena antri kamar mandi. Dan dalam kasus Pak Usman, haji berubah menjadi medan laga antara iman dan kriminalitas. Sebuah drama luar biasa yang tidak mungkin ditemukan di buku manasik atau simulasi haji di asrama haji.
Maka, wahai calon jemaah haji dan mereka yang masih menabung dari gaji pas-pasan untuk bisa menyentuh Hajar Aswad, bersiaplah. Haji bukanlah sekadar paket perjalanan spiritual dengan hotel bintang lima dan sajian buffet tiap hari. Haji adalah simulasi akhirat, tapi dengan bonus ujian dunia yang tak kalah keras. Di sana, Anda tidak hanya diuji oleh panas dan jarak, tapi juga oleh ketulusan, kejujuran, dan apakah Anda mampu menahan diri saat kehilangan Rp16 juta tanpa memaki dan justru berkata, “Saya ikhlaskan.”
Pak Usman bukan korban. Ia adalah pahlawan ikhlas. Ia adalah representasi dari ayat-ayat yang hidup dalam tindakan. Dan kita, para netizen, hanya bisa menyaksikan lewat layar ponsel, sambil berkata dalam hati: “Ya Allah, jadikan aku setegar beliau… tapi kalau bisa jangan diuji dengan taksi dulu.”
Semoga Allah membalas Pak Usman dengan haji mabrur dan mengganti hartanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan semoga kita semua mengambil hikmah. Sebab dari tragedi seperti inilah, kita belajar bahwa haji adalah panggilan untuk bukan hanya mendekat pada Allah, tapi juga menjauh dari sopir jahat yang menyamar sebagai saudara seiman.
Allahu Akbar. Jangan lupa bawa power bank, dan… hati-hati naik taksi.*
